Dibuat oleh saya:
Meuthia Sharah A
IX-10 / 19
01-001-335-2
Pertanyaan nomer 4 :
"Buatlah sebuah tulisan mengenai 'kenangan tak terlupakan di SMPN 8 Yogyakarta'"
"Kenangan yang tak terlupakan"
Apa ya..? Hmm... sulit.. bener deh.. sulit njawab soal kayak gini (untung tidak di UNAS kan)
Sepertinya saya akan menggunakan gaya bahasa formal juga non-formal yang dicampur unsur puitis.
Setiap sudut di SMP 8 Yogyakarta memiliki banyak kisah tersendiri bagiku.
Dari mulai aulanya, ruang kelasnya, toiletnya, laboratoriumnya, perpustakaannya, UKSnya, kantinnya, ruang spesialis (musik, TU, AVA, karawitan, Kepsek, Guru, Agama), hingga detil-detil terkecil dari perabotnya. Semua tak terlupakan. Dan tak pernah sekalipun, hingga detik ini, aku membayangkan akan meninggalkan bangunan tua bergaya Belanda itu.
Yang ku tau awalnya hanyalah hari pertamaku: MOS. Masa Orientasi Siswa. MOS yang tak terlupakan. MOS yang merupakan MOS pertama dalam hidupku. MOS dimana saat itu aku berkenalan dengan sebagian teman yang sebelumnya tak ku kenal. Di kelas VII-2, seragam merahkulah yang berbeda sendiri. Warnanya tak seperti seragam SD Negeri maupun Muhammadiyah. Ya. Seragam SD Islam Terpadu. Yang berbeda lagi aku mengenakan seragam putih-hijau SDku. Bagaikan alien dari antah berantah. Bahkan saat kawan-kawanku itu tahu aku adalah salah satu siswa program RSBI, keasinganku makin terasa lebih pekat.
Sabtu. Aku ingat. Hari itu hari pertama aku menginjakkan kaki di kelas VII-10. Suasana berbeda. Hanya dua orang dari dua puluh delapan siswa yang sebelumnya telah aku kenal. Auliya Nur Rahmah, teman SDku, dan Annisa Cahyaningsih, cewek yang menggodaku saat mengikuti Psiko Tes.
Hari-hari berlalu bagaikan badai dan salju sekaligus. Rumor tak sedap menyebar bagaikan virus yang menular. Gas elpiji seberat 3 kg di telinga pun tak kuat menahan ledakan. Namun semester 2 itu kami sekelas kedatangan tamu gula-gula. Mulai diterima warga sekolah. Hal terindah setelah terkurung dalam badai. Namun saat ini aku tak tahu, apakah masih ada sisa badai itu di hati sebagian warga.
Tahun itu saat-saat kemah galang. Aku pun mengikuti Dianpinru. Menggantikan jabatan sekretaris. Saat itu hanya aku dan seorang kawan kelompokku yang ikut. Walau seharusnya 4 pimpinanlah yang mengikutinya.
Tahun kedua. Aku rasa itu tahun yang memiliki kisah terpanjang sepanjang masa. Bisa dibilang pagi hari di sepanjang tahun itu adalah detik-detik paling menengangkan. Terlambat. Tiap pagi jantungku dipompa hingga mencapai batas stadium akhir. Sanksi. Hukuman. Namun aku bertaubat. Aku bertekad tak akan terlambat lagi. Dan melupakan kenangan-kenangan masa terlambatku yang suram.
Tahun kedua pula aku mengikuti ICAS. ICAS, tes dari Australia. Tes yang buku soalnya sangat jauh berbeda dari buku soal Indonesia. ICAS yang pertama, dan mungkin yang terakhir, jika aku tak melanjutkan program RSBI ini di SMA. Di tahun kedua lah aku merasa diterima, setelah sekian lama. Akhirnya. Dan memang, sejak pertama mulai diterima, anggota kelasku menggapai prestasi. Semakin lama, semakin banyak piala, piagam, penghargaan yang telah disabet. Memang, itu bukanlah aku. Namun aku turut berbangga. Bangga mendapat PJ (Pajak Juara) :P #nyasar
Di tahun itu aku mendapatkan adik kelas. Sejujurnya aku agak ngiri sama mereka. RSBI angkatanku harus menunggu sekian lama untuk mendapatkan fasilitas yang dijanjikan bagi siswa program RSBI. Namun apa? Semua fasilitas lengkap saat detik-detik penerimaan raport semester 2 kelas VII. Namun apa lagi? Komputer kelas yang belum lama nangkring di belakang kelas itu diambil, diberikan kepada adik kelas. Tapi itu tak seberapa. Aku bisa maklum. Tapi mengambil tanpa sepengetahuan anak-anak kelas?
Ah, kisah lama. Tak perlu disungging lagi. Toh, itu hanya sekadar fasilitas sekolah yang terlambat hadir.
Kelas 8, aku mengikuti suatu bimbingan belajar Bahasa Inggris yang diwajibkan sekolah bagi anak2 program RSBI. Singkatan bimbel itu RE. Aku senang waktu itu. Terutama hari dimana ada suatu games kecepatan dan ketepatan. Aku senang. Entah kenapa sangat membekas walau itu tlah lama berlalu. Dan semua itu hanya terjadi beberapa jam saja seusai sekolah. Dan hari terakhir aku belajar disitu pun aku harus lari secepatnya untuk mengejar jam pelajaran di bimbel Bahasa Inggris lain yang berada tak jauh dari RE. Aku menyesal. Kenapa aku harus ikut bimbel lain itu?Aku menyesal. Itu hari terakhir aku melihat Mr. Mike (gak tau nulis nama yg bener). Dia berkebangsaan Kanada. Dan mungkin saat ini ia telah kembali ke negaranya. Dipecat? Tak tau. Melihat status FBnya saja membuatku berpikir sepertinya ada sesuatu terjadi.
Tahun ketigaku. Aku santai, awalnya, Ya. Santai. Tapi kemudian jadwal santaiku berkurang. Tambahan pelajaran, Try Out, pembinaan, semuanya mengubah jadwalku. Namun aku senang. Tambahan pelajaran mencampur semua anak dari kelas besar dan kelas kecil. Mengenalkanku pada beberapa anak yang sebelumnay tak kukenal. Try Out, membuatku termotivasi mengikuti bimbingan belajar. Namun tetap, ibuku hanya membolehkanku jika aku privat. Motivator, sesuai namanya mereka memotivasi. Baik guru, maupun mbak-mbak dari Universitas Fakultas Psikolog.
Di tahun ketiga, hal yang tak terlupakan: Buber. Buka Bersama. Tak hanya yang beragama Islam saja yang ikut. Ada juga dari agama lain yang ikut menyiapkan makanan berbuka. Terharu. Tersentuh. Malam itu pula, aku menyadari sesuatu berbeda saat siang dan malamnya dari bangunan Belanda tua itu. Sesuatu berbeda. Itukah dunia "mereka"?
Mungkin hanya ini kenangan yang sangat aku ingat. Walaupun ada kenangan-kenangan yang lebih berarti, namun sialnya sedang aku lupakan -______-
Mungkin lain kali aku akan mengingat dan mencatatnya dalam memo elektronikku ini.
So, sampai sini aja.
--Fin--