19/03/11

Hanya...

aku takut... takut...
jika suatu saat nanti, aku tak bisa mendengar detaknya, merasa hadirnya, mengetahui hembusnya...
aku takut...
jika aku tak berada disisinya, aku akan kehilangan genggamannya.. doanya.. harapannya..
aku gemetar...
menggigil, kedidingan, tanpa selimut kasihnya..
otakku serasa tak ingin berkompromi..
paruku serasa tak ingin terkurung lagi dalam tubuh hina ini..
tangan kakiku serasa tak ingin ada gerakan.. sedikit pun..


aku takut... amat sangat takut.... sangat..sangat..
jika suatu malam, ia tak ada..
ia tertidur.. pulas..
namun aku tak bisa mendengar dengkurannya..
yang menandakan ia sakit... lebih sakit dari yang terlihat..


ya.. aku telah mengetahuinya..
walau tak ada jujur darinya..
aku telah mengetahuinya..
ia bisa membohongiku dengan lidahnya..
namun tidak dengan dengkurnya..
tidak sekali pun bisa..


tak pernah kubayangkan sebelumnya..
bagaimana hidupku selanjutnya..
jika ia tiada kemudian..
dengan meninggalkan kisah-kisah terdahulu..
dengan mengambil sebagian besar hartaku yang masih tersisa..
dengan mengais buangan ke waja..


namun apa dayaku..
siapa aku?
yang tak lebih tinggi dari udara..
tak kurang hina dari yang terhina..
hanya seonggok tanah yang miliki takdirnya..
hanya itu..
ya, hanya itu..
sayangnya, hanya itu..
sungguh disayangkan..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar