Majas perbandingan
- Alegori: majas yang menjelaskan maksud tanpa secara harafiah. Contoh:
· Perjalanan hidup manusia seperti sungai yang mengalir menyusuri tebing-tebing, yang kadang-kadang sulit ditebak kedalamannya, yang rela menerima segala sampah, dan yang pada akhirnya berhenti ketika bertemu dengan laut.
· Dalam mengarungi bahtera rumah tangga ini suami sebagai nahkoda, Istri sebagai juru mudi.
- Alusio: Pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal.
Contoh: Sudah dua hari ia tidak terlihat batang hidungnya.
Penjelasan :
Kata 'Batang hidung' dalam kalimat di atas sudah lazim didengar orang dan diketahui artinya, yang mana 'Batang hidung' berarti " Sosok seseorang ". Kalimat di atas berarti : Sudah dua hari ia tidak terlihat sosoknya ( bersembunyi ).
- Simile: Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan penghubung, seperti layaknya, bagaikan, " umpama", "ibarat","bak", bagai". Contoh:
· Kau umpama air aku bagai minyaknya, bagaikan Qais dan Laila yang dimabuk cinta berkorban apa saja.
· Wajahmu bagaikan rembulan yang bersinar di malam hari.
· Gadis itu bagaikan bunga mawar yang baru mekar.
· Persahabatan kami layaknya rantai yang kokoh.
· Rambutmu bak mayang terurai.
- Metafora: Pengungkapan berupa perbandingan analogis dengan menghilangkan kata seperti layaknya, bagaikan, dll. Contoh:
· Waspadalah terhadap lintah darat
· Engkau belahan jantung hatiku sayangku.
· Raja siang keluar dari ufuk timur.
· Jonathan adalah bintang kelas dunia.
· Aku adalah angin yang kembara.
- Antropomorfisme: Metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia. Subyek antropomorfisme seperti binatang yang digambarkan sebagai makhluk dengan motivasi manusia, dapat berpikir dan berbicara, atau benda alam seperti angin atau matahari. Tiga hewan antropomorfis yang paling terkenal sampai saat ini adalah Donal Bebek, Miki Tikus, serta Tom dan Jerry.
- Sinestesia: Majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya. Contoh:
· Betapa sedap memandang gadis cantik yang selesai berdandan.
· Suaranya terang sekali.
· Rupanya manis.
· Namanya harum.
- Antonomasia: Penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama jenis. Contoh:
· Si Gemuk
· Si Lincah
· Si Pintar
- Aptronim: Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang. Contoh:
· Karena sehari-hari ia bekerja sebagai kusir gerobak, ia dipanggil Karto Grobak.
- Metonimia: Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut. Contoh:
· Ayah membeli sebatang Djarum Coklat.
· Kakak pergi naik Kijang hijau.
Penjelasan :
· Kata Djarum Coklat pada kalimat di atas bukanlah merupakan benda aslinya (sebuah jarum berwarna coklat), melainkan sebuah merek dari sebuah rokok/kretek.
· Kata Kijang hijau pada kalimat di atas bukanlah merupakan benda aslinya (seekor kijang yang bewarna hijau), melainkan sebuah merek mobil Toyota.
- Hipokorisme: Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib. Contoh:
· Lama Otok hanya memandangi ikatan bunga biji mata itu, yang membuat otok kian terkesima.
- Litotes: Ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri. Contoh:
· Akan kutunggu kehadiranmu di bilikku yang kumuh di desa
· Wanita itu parasnya tidak jelek
- Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal. Contoh:
· Suara keras menggelegar membelah bumi.
· Perasaanku teriris-iris mendengar kisahnya.
· Darahnya mengalir menganak sungai.
· Dia menendang bola bundar itu dengan kakinya.
- Personifikasi: Pengungkapan dengan menggunakan perilaku manusia yang diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia. Contoh:
· Saat ku melihat rembulan, dia seperti tersenyum kepadaku seakan-akan aku merayunya.
· Mentari pagi hari membangunkan isi bumi.
· Daun pohon kelapa di pantai itu melambai - lambai memanggilku.
- Depersonifikasi: Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa. Contoh: Dikau langit, daku bumi.
15. Pars pro toto: Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek. Contoh: Sudah ditunggu hingga satu jam lamanya tetapi ia tidak nampak batang hidungnya.
Penjelasan:
Di sini 'batang hidung' disebutkan (sebagai anggota tubuh) sebagai kata ganti untuk menyebut seseorang (secara keseluruhan anggota tubuhnya lainnya).
- Totum pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian. Contoh: Indonesia menang atas Thailand dalam pertandingan sepak bola di Jakarta kemarin sore.
Penjelasan:
Di sini disebutkan Indonesia dan Thailand (keseluruhan negara Indonesia dan Thailand, namun yang dimaksudkan adalah tim nasional sepak bola Indonesia dan tim nasional sepak bola Thailand)
17. Eufimisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus. Contoh :
· "Di mana 'tempat kencing'nya?" diganti dengan "Di mana 'kamar kecil’nya?"
· Gelandangan = tuna wisma, Buta = tuna netra, Tuli = tuna rungu, Buta huruf = tuna aksara
- Disfemisme: Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya.
Contoh: tidak memakai kata tuna wisma, tuna netra, tuna rungu dan tuna aksara, tapi memakai kata gelandangan, buta, tuli dan buta huruf.
- Fabel: Menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata.
Contoh: Kancil dan Buaya
- Parabel: Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita.
Contoh: Cerita Adam dan Hawa
- Perifrase: Ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek.
Contoh:
· Ia bersekolah di kota kembang (maksudnya: Bandung).
· Indonesia pernah dijajah oleh negeri matahari terbit (maksudnya: Jepang).
- Eponim: Menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata. Contoh:
· Bilangan Avogadro (oleh Amedeo Avogadro).
· Mesin diesel (oleh Rudolf Diesel).
· Penyakit Parkinson (oleh James Parkinson).
· Komet Halley (oleh Edmond Halley).
· Distribusi Gauss (oleh Carl Friedrich Gauss).
· Konstanta Planck (oleh Max Planck).
- Simbolik: Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud. Contoh:
· Ia terkenal sebagai buaya darat.
· Rumah itu hangus dilalap si jago merah.
- Pleonasme dan Tautologi
· Pleonasme adalah penggunaan kata yang mubazir yang sebesarnya tidak perlu. Contoh: Capek mulut saya berbicara.
Tautologi adalah gaya bahasa yang menggunakan kata atau frase yang searti dengan kata yang telah disebutkan terdahulu. Contoh: Apa maksud dan tujuannya datang ke mari?
jam 16.45
Jum’at, 27 Januari 2012
Nice Post
BalasHapus